Awalnya sih gw belum begitu tertarik sama bukunya Pramoedya. soalnya jujur aja nih, selain bukunya tebel banget, terus haraganya juga lumayan mahal buat gue sih ( maklum anak kos ). tapi kesini2 gue jadi suka banget. terutama bukunya yang judulnya ” SAYA TERBAKAR AMARAH SENDIRIAN “. Cerita berawal dari waktu gue ospek. Gw kuliah di kampus yang katanya kampus reformasi. tapi gue gak yakin juga sih di dalemnya udah bermental reformasi. Gw menyangsikan. bahkan buat diri gue sendiri juga. Tapi udahlah, biar digimanain juga, kampus itu pernah jadi bagian dari semangat, sejarah dan menjadi salah satu pendukung terjadinya penggulingan presiden oleh generasi muda. Aduh jadi melenceng dari cerita nih…. Balik lagi deh ke cerita. Saat itu ospek, gue lagi dapet materi dari senior gue . awalnya gue males dengerin, palingan juga ngebahas tentang apa yang gak penting, tapi senior ini beda ternyata… gw sadar waktu dia minta tolong sama salah satu temen gue untuk diperbanyak. terus temen gue kasih lembaran itu ma gue, ternyata fotokopian dari bukunya Pramoedya Ananta Toer. Judulnya “Saya terbakar amarah sendirian” tapi sayangnya yg dikopi cuma salah satu bab yang ada dalem buku itu. gw inget banget ngebahas tentang “budaya dan jawanisme”. Itulah awalnya, gue males baca tapi kesini mulai gue baca dan hasilnya cerita itu cukup menarik.
Pramoedya berbicara tentang pembusukan negara Indonesia yang berhubungan dengan sikap budaya jawanisme dan mengarah pada fasisme. Tentang budaya jawa yang selalu taat dan setia secara membabi buta pada atasan, yang disebut oleh pramoedya ananta toer sebagai Fasisme Jawa. fasisme jawa ini yang diungkapkan oleh pramoedya ananta sebagai budaya yang negatif. dikatakan menjadi penyebab atas dikuasainya pulau Jawa oleh kolonial. hal ini dikarenakan kaum elit Jawa bekerja sama dengan pihak kolonial untuk mengambil rempah-rempah. Namun rakyat yang memang sudah tertanam di jiwanya fasisme jawa itu tidak akan pernah berani melawan kaum elitnya. karena kesetiaan dan ketaatan pada atasan adalah prinsipnya. Ia juga menganggap bahwa zaman setelah kudeta 1965 merupakan penghancuran total terhadap budaya indonesia. ia menjelaskan bahwa rezim orde baru merupakan rezim yang tak punya arah dan tujuan. Dikatakan bahwa soeharto merupakan orang yang tidak terpelajar karena pada saat rezim soeharto tersebut, banyak karya tulisnya yang dibakar ( Pembakaran karya menurutnya merupakan pembunuhan karakternya) dan juga ia dipenjarakan karena ia dianggap sebagai komunis. Dalam bab ini juga disinggung tentang agama. Pram (begitu nama panggilannya) tidak percaya pada salah satu agama pun, sehingga ia mengatakan bahwa agama merupakan penciptaan manusia. pelarian. dan berdoa merupakan kegiatan mengemis. intinya segala yang menggunakan bahasa manusia adalah produk otak manusia. ” Mental Bangsa Indonesia Merupakan Mental Pengemis ” ia berkata begitu. begitu kontroversial namun sebuah pemikiran yang bagus dan menarik jika dilibatkan dalam budaya yang ada di Indonesia. takkan pernah bisa disatukan bila wacana ini dikeluarkan bagi orang-orang yang ekstrimis.
Pramoedya ananta toer berbicara banyak tentang hal itu. tenatang jawanisme yang selalu ia tentang sebagai budaya. walaupun ia dilahirkan dari seorang priyayi jawa dengan gelar MAS (nama aslinya Pramoedya Ananta Mastoer. ia melepaskan nama mas di depan nama toernya karena ia merasa kata “mas” tersebut terlalu aristokratik. apa yang direkam dlam buku ini, adalah sebuah pengungkapan tentang penindasan historis, politis dan ketidak manusiawi-an sebagai orang yang pernah mengalami sendiri. dan buku ” Saya terbakar Amarah Sendirian ” merupakan kelanjutan pembangkangan, penolakan, Individualis, penentangan dan kebebasan.
Seorang Pramoedya Ananta Toer yang melakukakan perlawanan melalui karya dan tulisannya….
tan_diawan